PRAKTIK BAIK JURUS BK HEBAT SMANUM JADI BAHAN STUDI TIRU MGBK JEMBER

Layanan Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri Umbulsari mendapat perhatian dalam forum Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Jember.

SIMAK: Guru BK SMAN Umbulsari, Mustofa, S.Psi., berbagi pengalaman dan praktik baik layanan BK dalam forum MGBK Kabupaten Jember.

GUNUNGSARI, SMAN UMBULSARI – Praktik baik layanan Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri Umbulsari mendapat perhatian dalam forum Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Jember. Guru BK SMAN Umbulsari, Mustofa, S.Psi., diundang sebagai narasumber untuk berbagi praktik baik implementasi Jurus ke-6 dan ke-7 Guru BK Hebat dalam kegiatan yang digelar di Aula Madya SMA Negeri 1 Jember, Kamis 27/8.

Undangan tersebut menjadi bagian dari upaya MGBK Kabupaten Jember untuk mendorong terwujudnya layanan BK yang tidak hanya berfokus pada penanganan masalah murid secara individual, tetapi juga mampu membangun kolaborasi dan menciptakan situasi sekolah yang aman, nyaman, serta mendukung perkembangan murid.

Ketua MGBK Kabupaten Jember, Muhammad Husnan, S.Kom., mengatakan bahwa setiap sekolah pada dasarnya memiliki upaya untuk membangun kolaborasi dan menjaga situasi agar tetap kondusif. Namun, menurutnya, diperlukan aksi nyata yang dilakukan secara terukur dan terstruktur sehingga praktik tersebut dapat direplikasi di sekolah lain. “Implementasi membangun kolaborasi dan menjaga situasi di setiap sekolah pasti ada. Namun, aksi nyata yang berdampak secara terukur dan terstruktur kita bisa studi tiru dari SMA Negeri Umbulsari,” ujarnya.

Kehadiran Mustofa sebagai narasumber berawal dari kegiatan diseminasi tujuh Jurus BK Hebat yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Timur. Pada akhir kegiatan tersebut, seluruh peserta, termasuk Mustofa, diminta mengirimkan laporan implementasi Jurus BK Hebat di sekolah masing-masing.

Dari laporan tersebut, implementasi Jurus ke-6 dan ke-7 yang dilakukan di SMAN Umbulsari menjadi salah satu praktik yang menarik perhatian. Kedua jurus tersebut dinilai penting sekaligus cukup menantang karena pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan banyak unsur di sekolah. “Setelah melihat indikator implementasi jurus BK ke-6 dan ke-7 di SMANUM, di mana peserta diseminasi lainnya jarang mengunggah jurus ini karena tidak mudah, akhirnya kami undang Pak Mustofa untuk menjadi narasumber. Supaya pemaparan dari Pak Mustofa sejauh mana membangun kolaborasi dapat menjadi bahan studi tiru di sekolah lainnya,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Pak Mustofa menjelaskan bahwa terdapat tujuh Jurus BK Hebat yang dapat menjadi pendekatan dalam memberikan layanan kepada murid. Lima jurus pertama pada dasarnya dapat dilakukan tidak hanya oleh guru BK, tetapi juga oleh guru mata pelajaran, wali kelas, kesiswaan, maupun guru lainnya yang berinteraksi langsung dengan murid.

Tujuh jurus tersebut meliputi Kenali Potensi, Kelola Emosi, Tumbuhkan Resiliensi, Jaga Konsistensi, Jalin Koneksi, Bangun Kolaborasi, dan Menata Situasi.

Jurus pertama, Kenali Potensi, diarahkan agar murid mampu memahami potensi dirinya sekaligus memiliki gambaran mengenai tujuan jangka panjang selama menempuh pendidikan di jenjang SMA, baik untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.

Jurus kedua, Kelola Emosi, menekankan pendekatan sosial-emosional dalam menghadapi murid sehingga mereka merasa aman dan nyaman untuk mengenali serta mengelola emosinya ketika menghadapi persoalan.

Selanjutnya, Tumbuhkan Resiliensi membantu murid menghadapi kegagalan dan berbagai tantangan dengan memiliki daya lenting untuk kembali bangkit serta melanjutkan langkah menuju target yang diimpikan. Adapun Jaga Konsistensi diarahkan untuk menumbuhkan kebiasaan berkesadaran sehingga perubahan perilaku murid tidak hanya muncul karena motivasi atau target dari guru, tetapi tumbuh dari kesadaran dirinya sendiri.

Sementara itu, Jalin Koneksi menekankan pentingnya komunikasi empatik antara guru dan murid. Melalui koneksi yang baik, prinsip we listen, don't judge dapat diterapkan sehingga murid memiliki ruang yang lebih nyaman untuk menyampaikan persoalan dan kebutuhannya.

Adapun dua jurus yang menjadi fokus dalam kegiatan MGBK tersebut adalah Bangun Kolaborasi dan Menata Situasi. Menurut Pak Mustofa, keberhasilan layanan BK tidak dapat hanya dibebankan kepada guru BK. Dibutuhkan kerja sama berbagai unsur sekolah agar penanganan kebutuhan murid dapat dilakukan secara menyeluruh.

Dalam konteks SMAN Umbulsari, kolaborasi tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya tim sarana dan prasarana, kurikulum, kesiswaan, OSIS, dan MPK. Masing-masing memiliki peran dalam membaca kebutuhan murid maupun mendukung tindak lanjut yang diperlukan.

Husnan juga menanyakan secara langsung pihak-pihak yang terlibat dalam menjaga situasi sekolah agar tetap kondusif. Dalam praktiknya, tim sarana dan prasarana menjadi salah satu unsur yang paling tampak karena berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan sekolah. Namun, upaya menciptakan situasi yang aman dan nyaman juga tidak terlepas dari peran tim kurikulum, kesiswaan, OSIS, MPK, serta unsur sekolah lainnya.

Menurut Mustofa, setelah kolaborasi terbangun, langkah berikutnya adalah Menata Situasi. Artinya, hasil kerja bersama tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi murid. Dengan demikian, BK tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi turut berperan dalam membangun ekosistem sekolah yang mendukung tumbuh kembang murid.

Kegiatan berbagi praktik baik tersebut menjadi ruang bagi SMAN Umbulsari untuk menunjukkan bahwa layanan BK dapat dikembangkan melalui kerja bersama seluruh warga sekolah- tentunya tidak luput dari arahan langsung kepala sekolah. Praktik yang telah dilakukan di SMANUM diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman internal sekolah, tetapi dapat menjadi inspirasi dan bahan studi tiru bagi sekolah lain dalam membangun kolaborasi serta menata situasi sekolah secara lebih terstruktur di bawah kebijakan kepala sekolah.

Melalui forum MGBK ini, SMAN Umbulsari turut menegaskan bahwa keberhasilan layanan BK bukan hanya tentang seberapa banyak masalah murid yang dapat diselesaikan, tetapi juga tentang seberapa kuat sekolah membangun sistem yang membuat murid merasa aman, nyaman, didengarkan, dan memiliki ruang untuk berkembang secara optimal. (tof/fik)

#Humas
SHARE :
AGENDA
LINK TERKAIT