
Momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW SMAN Umbulsari Jember
MERIAH: Penampilan murid dalam lomba hadrah antar kelas.
GUNUNGSARI, SMAN Umbulsari – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri Umbulsari dikemas dengan cara berbeda. Tidak sekadar diisi dengan ceramah dan tausiyah, kegiatan yang digelar pada Rabu (9/9) tersebut dirancang sebagai bagian dari implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) dalam Kurikulum Merdeka.
Melalui pendekatan ini, peringatan Maulid Nabi menjadi ruang bagi murid untuk tidak hanya mengenal sosok dan keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga memahami makna di balik nilai-nilai yang beliau ajarkan, merefleksikannya dengan kehidupan sehari-hari, serta menemukan cara untuk menerapkannya di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi, Zaenul Arifin, S.Pd., menyampaikan bahwa konsep kegiatan tahun ini dibuat lebih interaktif dengan melibatkan murid secara langsung melalui Lomba Da’i dan Lomba Hadrah antarkelas. “Adanya lomba tersebut diharapkan kita bisa menjaring murid yang memiliki potensi dalam bidang ceramah maupun lantunan sholawat. Nantinya, murid yang memiliki bakat akan kita tampilkan dan kembangkan untuk mengikuti berbagai ajang bakat,” ungkapnya.
Menurut Zaenul, pelaksanaan kegiatan juga berpusat pada murid. Murid tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian utama dalam mempersiapkan sekaligus memeriahkan rangkaian peringatan Maulid Nabi. “Melalui perlombaan dan rangkaian acara yang menyenangkan, kami ingin kegiatan ini benar-benar berpusat pada murid. Mereka yang berproses, mereka yang berkegiatan, dan mereka pula yang merasakan pengalaman dari kegiatan tersebut,” lanjutnya.
Konsep tersebut kemudian dihubungkan dengan tiga prinsip dalam pembelajaran mendalam, yakni mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.
Pada aspek mindful learning atau pembelajaran berkesadaran, murid diharapkan mengikuti kegiatan dengan kesadaran dan antusiasme, bukan karena adanya paksaan. Hal tersebut, menurut Zaenul, terlihat sejak tahap persiapan kegiatan. “Setelah kita sosialisasikan konsep ini kepada murid, mereka langsung berlatih. Bahkan, ada kelas yang berlatih hingga malam hari. Ini menunjukkan adanya kesadaran dan antusiasme dari murid untuk terlibat dalam kegiatan,” ujarnya.
Sementara itu, prinsip meaningful learning atau pembelajaran bermakna diwujudkan dengan mengajak murid tidak berhenti pada pengetahuan tentang Maulid Nabi, tetapi mampu mengambil nilai dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. “Harapannya kegiatan ini bermakna bagi semuanya. Tidak hanya mendapatkan materi tanpa diimplementasikan, tetapi kita bisa semakin mencintai sholawat dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Adapun prinsip joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan terlihat dari suasana kegiatan yang dibangun secara interaktif. Antusiasme murid, dukungan antarkelas, serta berbagai aktivitas yang dikemas secara menarik membuat peringatan Maulid Nabi berlangsung dalam suasana yang penuh kegembiraan. “Mereka senang, interaktif, dan saling support dari satu kelas dengan kelas lain. Ada juga kegiatan mengambil gantungan snack yang membuat murid merasa bahwa kegiatan ini menyenangkan,” tutupnya.
Melalui konsep tersebut, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMAN Umbulsari tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi murid untuk menghayati keteladanan Rasulullah, membangun kesadaran, menemukan makna, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (fik)