Kolaborasi PPL UAS dan Pak Nadhif Pulihkan Mental Belajar Mengaji

Mahasiswa PPL merancang dan meluncurkan program PELITA (Pendampingan Literasi Hijaiyah Tahap Awal). Pada eksekusi perdana, pendekatan emosional menjadi kunci utama.

FOKUS: Sejumlah murid SMANUM belajar membaca huruf Hijaiyah

GUNUNGSARI, SMAN Umbulsari - Latar suasana di Masjid Al-Hikmah SMAN Umbulsari berupaya mengurai sisi psikologis dalam proses pembelajaran. Selama ini, dianggap sekadar bentuk ketidakdisiplinan biasa ketika catatan siswa menghindar pelajaran Agama Islam terutama baca tulis Alquran. Namun, inisiasi jeli dari mahasiswi PPL PAI (Pendidikan Agama Islam) yang berkolaborasi dengan guru agama sekolah mengurai masalah yang sebenarnya, yaitu sejumlah siswa tersebut belum mampu membaca huruf Hijaiyah.

Melalui wawancara mendalam saat koordinasi bersama mahasiswa PPL prodi BKPI (Bimbingan Konseling Pendidikan Islam) Universitas Al-Falah As-Suniyah (UAS) Jember, terungkap sisi kelam yang dialami para siswa tersebut. Aksi membolos saat pelajaran agama bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) dari para siswa. Mereka memiliki trauma masa lalu akibat perundungan (bullying) dari teman sekelas sewaktu mengaji di jenjang SMP. Rasa malu dan takut diintimidasi itu kembali terbawa hingga jenjang SMA. Mekanisme pertahanan dirinya mewujud suatu rencana tidak masuk di hari tertentu yang ada pelajaran Agama Islam apalagi ketika ada tugas membaca Alquran.

Melihat fakta psikologis tersebut, aksi cepat dilakukan melalui sinergi dua guru pamong: Pak Nadhiful Qulub (guru agama pengumpul data siswa) dan Pak Mustofa (guru pamong PPL BKPI UAS Jember). Mahasiswa PPL merancang dan meluncurkan program PELITA (Pendampingan Literasi Hijaiyah Tahap Awal). Pada eksekusi perdana, pendekatan emosional menjadi kunci utama. Mahasiswa PPL menciptakan ruang aman (safe space) dengan menegaskan aturan penting, yaitu “tidak ada yang boleh saling menertawakan”, lantaran seluruh peserta berada di titik perintisan yang sama.

Suasana Masjid Al-Hikmah kian mencair ketika Pak Nadhif berdiri memberikan sambutan. Dengan pembawaannya yang tenang dan mengayomi di balik songkok khasnya, kata-kata yang ia sampaikan mampu meruntuhkan rasa canggung dan kecemasan siswa. Pendekatan persuasif tersebut berhasil mengetuk hati para siswa terdata, hingga mereka dengan ikhlas dan penuh kesadaran diri bersiap mengikuti seluruh rangkaian program PELITA.

Metode Kelompok Kecil di Sudut-Sudut Masjid

Meski mahasiswa hanya akan melaksanakan dalam dua sesi singkat—tanggal 23 dan 30 Oktober—sebelum penarikan mahasiswa PPL UAS pada 3 November, dampaknya terasa signifikan bagi mental para siswa. Dalam memastikan pembelajaran berjalan intensif dan personal, seluruh peserta dibagi ke dalam 6 kelompok kecil yang tersebar di sudut-sudut masjid. Pada tahap ini, seluruh pendamping belajar merupakan mahasiswa PPL UAS Jember. Pendekatan tatap muka secara suportif ini dibuat agar siswa tidak merasa dihakimi, melainkan didampingi secara bertahap sesuai tingkatan kemampuannya.

Di tengah berjalannya pendampingan, sebuah temuan menarik didapatkan. Salah satu mahasiswi melaporkan kepada Pak Mustofa bahwa ada seorang siswa kelas X6 yang sebenarnya sudah lancar membaca Al-Qur'an. Sebelum menerbitkan keputusan resmi, Pak Mustofa menguji langsung kemampuan siswa tersebut dengan memintanya membaca Surat At-Taubah ayat 10 hingga 20.

Hasilnya sangat memuaskan, hanya ditemukan satu kesalahan kecil pada bacaan tarqiq-nya. Setelah dikonfirmasi bahwa siswa tersebut aktif mengikuti bimbingan belajar di rumah, Pak Mustofa menerbitkan surat rekomendasi yang diteruskan kepada Pak Nadhif. Siswa tersebut secara resmi dinyatakan lulus dari program PELITA dan tidak perlu mengikuti sesi selanjutnya, membuktikan bahwa proses validasi data dalam program ini dilakukan secara terukur dan objektif.

Pak Nadhif, sosok guru agama yang identik dengan songkok khasnya sehari-hari itu, menaruh harapan besar pada keberlanjutan program ini. Beliau menegaskan bahwa PELITA harus terus menyala di SMAN Umbulsari melalui integrasi dan kolaborasi lintas unit: Kesiswaan, Kurikulum, serta Bimbingan Konseling (BK).(tof/fik)



#Kesiswaan
SHARE :
AGENDA
LINK TERKAIT